Baru2 ini saya sempat mampir ke tautan yang tertulis di Kompasiana oleh Mas Farid Wadjiji, yang kalau sesuai profilnya adalah seorang “Lulusan arsitek yang bekerja di perusahaan kontraktor nasional. Mengelola blog “Bedah Rumah” yang membedah segala”

Sebenarnya tulisan Mas Farid ini sudah lama, sejak Juni 2012. Cukup lama memang, tapi tulisan beliau ini sudah menyoroti tentang Maraknya TV2 Nasional yang menganggat yang dianggap ustadz atas nama Lucu, Menarik tanpa memandang keilmuan yang dia punyai. Sehingga lahirnya khajian2 yang jauh dari pembelajaran dan hanya terkesan Atas Nama Rating. 

Hal yang menarik dari Tulisan Mas Farid Wadjiji ini adalah tentang Buya Hamka dan KH AR. Fachruddin. Berikut ini selengkapnya.

Bagi generasi yang lahir tahun 70-an, tentunya tak asing lagi dengan Buya Hamka dan KH AR Fachruddin. Ya, Buya Hamka adalah ulama terkemuka yang pernah rutin mengisi ceramah acara Mimbar Agama Islam di TVRI (Jakarta), sekitar tahun 1975-1980. Dan saya bangga pada TVRI yang menampilkan Buya Hamka, ulama yang sangat saya hormati, dalam acara ceramah agamanya. Buya Hamka jelas bukan ustad sembarangan. Beliau merupakan ulama yang komplit. Beliau adalah ulama yang juga seniman sastra dan seorang filosof. Beliau adalah seorang ulama yang sederhana namun teguh dalam pendirian. Cara penyampaian beliau dalam berceramah sungguh sangat menyejukkan, dengan gaya bahasa yang tertata, bahkan kadang puitis, sehingga membawa pendengar untuk merenungkan lebih jauh substansi ceramahnya.

Sedangkan KH AR Fachurddin adalah pengisi acara Mimbar Agama Islam di TVRI Yogyakarta, pada tahun yang hampir bersamaan dengan masa Buya Hamka mengisi ceramah di TVRI Jakarta. Beliau juga bukan ustad sembarangan, karena waktu itu beliau juga menjabat Ketua PP Muhammadiyah. Dengan gaya bahasa yang juga halus, santun dan menyejukkan, para pendengar dapat dengan mudah menangkap substansi yang disampaikannya. Hal itu karena Pak AR (begitu sapaannya yang terkenal) menggunakan pendekatan yang jitu, yaitu dengan contoh-contoh yang riil dan memperhatikan kultur Jawa pada para pendengar setianya.

Ah, saya ingin sekali muncul kembali seorang penceramah di televisi yang seperti Buya Hamka dan Pak AR. Gaya bahasanya yang santun, lembut dan menyejukkan. Juga isi ceramahnya yang sarat dengan pesan-pesan dan makna yang mendalam. Kehidupan pribadinya yang sederhana dan teguh pendirian, menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat luas. Umat Islam negeri ini sangat menghormatinya. Umat agama lain pun juga menghormatinya. Apakah saya bisa mengharapkan hadirnya kembali penceramah agama di televisi seperti beliau berdua? Atau apakah memang kecenderungan masyarakat sudah bergeser? Selengkapnya disini

Sangat menarik bukan, Indonesia saat ini terus terang dibutuhkan orang2 dengan Kemampuan diatas rata2. Tapi bisa memberikan atau menyampaikan keilmuannya dengan cara santun dan nyaman bagi pemirsa/pendengar.

Tetap Semangat!!

1 comment
  1. Indonesia merindukan Ulama yg tegas sekaligus bijak seperti Buya .. “Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib.”

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like

LazizMU Supply MDMC Salurkan Bantuan Logistik Kepada Korban Banjir Gedangsari

Gedangsari; PDMKG.org. Dampak bencana banjir dan longsor membuat rumah warga di beberapa…

LAZISMU PDM Gunungkidul Peduli Kemanusiaan

Rasa haru bahagia dan bingung bercampur aduk ketika mobil kantor bertuliskan PIMPINAN…

Merebut Pangsa Pasar dengan Cara Langit

Visi utamanya begitu istimewa; Meraih surga tertinggi (surga firdaus)!! Bukan yg lain. Masya Allah… Ada 4 ‘cara langit’ yg dia sampaikan, dan inilah yg menyebabkan bisnisnya kian membumi.

KOKAM membersihkan material longsoran di Bukit Trosari

Longsor yang terjadi di bukit Trosari pada hari Sabtu (02/05/2015) masih menyisakan…