Muhammadiyah Campus of Care and Learnig 111810

Jangan Wariskan Muhammadiyah kepada Generasi Berikutnya

14 September 2026 4 menit baca 4 dilihat
Muhammadiyah Campus of Care and Learnig 111810
Muhammadiyah Campus of Care and Learnig 111810

Ada satu kalimat yang mungkin terdengar tidak tepat, jangan wariskan Muhammadiyah kepada generasi berikutnya. Bukankah Muhammadiyah harus diwariskan? Bukankah setiap generasi memiliki kewajiban untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan orang-orang sebelumnya?

Justru karena pertanyaan itu saya ingin berhenti sejenak. Maksudnya adalah bukan berarti meninggalkan Muhammadiyah, apalagi menghentikan perjuangan para pendahulu. Namun, yang patut kita pertimbangkan adalah Muhammadiyah seperti apa yang ingin kita tinggalkan. Karena Muhammadiyah tidak pernah lahir sebagai sesuatu yang sudah selesai.

Ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912, ia tidak sedang menjaga organisasi besar yang sudah mapan. Ia menghadapi berbagai masalah nyata pada zamannya, seperti pendidikan, kehidupan sosial, kemiskinan, keterbelakangan, serta pemahaman keagamaan yang menurutnya perlu diperbarui. Ahmad Dahlan tidak hanya bertanya apa yang sudah dilakukan orang-orang sebelumnya. Ia bertanya apa langkah yang harus diambil untuk menyelesaikan situasi yang sedang dihadapinya. Di sana saya melihat salah satu semangat Muhammadiyah, kegelisahan yang menginspirasi terciptanya perubahan.

Hari ini Muhammadiyah telah tumbuh menjadi sebuah gerakan yang besar. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti sosial, lembaga filantropi, serta berbagai amal usaha sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Semua itu tentu patut disyukuri. Namun, sesuatu yang besar juga membawa sebuah risiko yakni “kemapanan”. Sebuah gerakan yang dulunya lahir karena kegelisahan bisa jadi berubah menjadi gerakan yang sibuk mempertahankan apa yang sudah dimilikinya. Bukan karena tidak punya semangat lagi, tapi karena semakin besar suatu organisasi, semakin banyak hal yang harus dijaga dan dipertahankan.

Di titik inilah saya merasa banyak pertanyaan muncul ketika belajar tentang Muhammadiyah. Selama menjadi bagian dari mahasiswa di Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM Yogyakarta, saya belajar lebih dekat tentang Risalah Islam Berkemajuan, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, serta Manhaj Tarjih. Semakin saya belajar, semakin saya merasa belum paham tentang Muhammadiyah. Justru pertanyaan semakin banyak.

Saya mulai menyadari bahwa Muhammadiyah bukan hanya sebuah nama, simbol, struktur, atau sejarah panjang. Di dalamnya terdapat cara memandang agama, ilmu, manusia, kehidupan, dan perubahan. Mungkin itulah yang sebenarnya perlu diwariskan. Risalah Islam Berkemajuan memberi orientasi bahwa Islam hadir dan memberikan jawaban terhadap berbagai aspek kehidupan. MKCH memberi arah mengenai keyakinan dan cita-cita yang menjadi arah gerakan. PHIWM mengajarkan bagaimana nilai-nilai Islam diperlihatkan dalam tindakan sehari-hari. Manhaj Tarjih mengajarkan pentingnya ilmu, dasar hukum, pertimbangan yang matang, serta sikap terbuka ketika menghadapi suatu masalah.

Dari sana saya menyadari satu hal bahwa Muhammadiyah bukan sekadar kumpulan jawaban. Ia memiliki tradisi untuk terus mencari jawaban. Tradisi itu penting dibawa ke generasi selanjutnya. Terutama melalui pendidikan. Murid-murid di sekolah Muhammadiyah sekarang ini akan menghadapi dunia yang tidak sama dengan dunia kita. Mereka berhadapan dengan kecerdasan buatan, ledakan informasi, media sosial, perubahan dalam dunia kerja, serta isu etika yang semakin kompleks. Mereka tidak hanya membutuhkan orang yang mampu memberikan jawaban. Mereka membutuhkan kemampuan membedakan antara informasi dan ilmu, pengetahuan dan kebijaksanaan, kebebasan serta tanggung jawab.

Oleh karena itu, pendidikan Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan murid yang hafal sejarah Muhammadiyah. Mereka harus tahu mengapa Muhammadiyah dahulu bergerak dan bagaimana semangat itu diwariskan untuk menjawab tantangan saat ini. Begitu pula dalam perkaderan. Kita tidak perlu mencetak kader masa depan sebagai fotokopi kader masa lalu. Mereka bisa berbeda dalam cara berbicara, berdakwah, bekerja, dan menggunakan teknologi.

Hal terpenting yang tidak boleh hilang adalah kompasnya. Nilai adalah kompas sementara bentuk hanyalah kendaraan. Di masa depan, cara Muhammadiyah berdakwah, berorganisasi, hingga mengelola amal usaha mungkin berubah total melebihi bayangan kita. Perubahan bentuk bukanlah ancaman. Musuh terbesarnya adalah ketika bentuk luar dipertahankan, namun ruh pergerakannya telah sirna.

Maka sebelum kita meminta generasi mendatang menjaga Muhammadiyah, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, Muhammadiyah seperti apa yang sedang kita siapkan untuk mereka? Apakah kita sedang mewariskan keberanian untuk berpikir, atau justru ketakutan untuk menjadi berbeda? Apakah kita sedang menanamkan semangat tajdid, atau hanya meminta mereka mengulang apa yang sudah kita lakukan? Pertanyaan itu mungkin membuat tidak nyaman. Tapi bukankah pembaruan sering kali dimulai dari keberanian mendobrak zona nyaman?

Jangan wariskan Muhammadiyah sebagai sesuatu yang sudah selesai. Namun, wariskan kecintaan kepada ilmu. Wariskan semangat tajdid. Wariskan akhlak dan keberpihakan kepada kemanusiaan. Wariskan tradisi berpikir yang terbuka dan bertanggung jawab. Hal yang tidak kalah penting adalah wariskan kegelisahan yang dahulu membuat Ahmad Dahlan memulai pergerakannya.

Sebab generasi berikutnya tidak hanya membutuhkan Muhammadiyah yang meminta mereka untuk menjaga masa lalu. Mereka membutuhkan Muhammadiyah yang memberi mereka keberanian untuk menghadapi masa depan. Akhirnya, pertanyaan mengenai masa depan Muhammadiyah bukan hanya pertanyaan yang harus dijawab oleh generasi muda saja. Ia adalah pertanyaan untuk kita semua.

Sebelum melempar estafet, mari kembali melihat apa yang ada di tangan kita. Jangan sampai kita hanya menyerahkan nama besar untuk generasi berikutnya, sementara kegelisahan yang dahulu membuatnya hidup telah kita tinggalkan. Muhammadiyah yang selesai mungkin akan menjadi sejarah. Tapi Muhammadiyah yang terus belajar, bertanya, terus gelisah, dan berani menjawab tantangan zaman akan tetap menjadi sebuah gerakan.

Didit Nurcahya
Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan 2 PWM D.I.Y