MCCC Gunungkidul; Corona Virus Disease 19 (COVID-19), telah menyebar sampai pelosok. Di Gunungkidul telah terdapat kasus positif, dan telah menjalani pengobatan hingga dinyatakan sembuh setelah dua kali pengujian laboratorium dengan hasil negatif. Membuka kembali kesadaran kita bahwa virus ini tidak bisa berpindah, namun manusia yang telah membantunya berpindah tempat dan menggandakan diri. Dari semenanjung daratan China, akhirnya sampai ke pelosok Gunungkidul.

Interaksi dan mobilisasi manusia, membantu virus ini menemukan tubuh baru untuk ditempati, menggandakan diri, kemudian menemukan tubuh baru yang lainnya, demikian terus menerus. Tempat berkumpulnya orang, menjadi tempat pengayaan virus ini, berlipat-lipat sejumlah orang yang hadir, kemudian masing-masing membawa kembali ke lingkungan kerja hingga rumah, dan mengkontaminasi pada setiap yang dijumpai.

Tubuh tempat virus ini hidup tidak selalu bereaksi menunjukkan gejala. Pada anak muda yang bugar, tidak akan menunjukkan gejala sama sekali. Sebagian orang dewasa akan mampu bertahan dengan antibodi dalam tubuhnya, hingga virus ini kalah. Kekhawatiran terbesar apabila virus ini sampai pada kalangan lansia dan orang-orang yang sudah memiliki penyakit lama, sulit untuk bisa menolong bertahan dengan fasilitas kesehatan yang kita miliki sekarang.

Logo Resmi MCC (Muhammadiyah COVID 19 Command Center)
Logo Resmi MCC (Muhammadiyah COVID 19 Command Center)

Kita telah berada pada situasi yang dihadapi Italia pada tiga pekan yang lalu. Ketika itu kota membatasi aktivitas, kalangan muda usia produktif pulang ke kampung halaman. Mereka berjumpa mesra dengan orang tua dan kakek neneknya. Negara dengan fasilitas kesehatan terbaik sedunia, menyatakan kalah berperang melawan COVID-19.

Angka kasus dan kematian yang tinggi di Italia terjadi dengan latar belakang faktor usia harapan hidup yang tinggi. Warga Italia memiliki usia yang panjang, yang artinya banyak terdapat lansia. Kita hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan faktor resiko yang sama, yaitu usia harapan hidup yang tinggi. Pepundhen dan sesepuh yang kita cintai, menjadi prioritas untuk dilindungi.

Upaya memutus mata rantai penularan COVID-19 sudah sampai pada individu. Pemerintah telah mengumumkan kewajiban menggunakan masker bagi setiap orang. Mengandung maksud terbangunnya kesadaran dan tanggung jawab dalam berinteraksi, dengan mengasumsikan diri kita membawa kontaminasi dan jangan mengkontaminasi orang lain. Maka, telah diasumsikan bahwa tidak ada area manapun, terutama fasilitas umum, yang bersih dari kontaminasi.

Menggunakan asumsi demikian sebab virus ini tidak terlihat, orang yang terkontaminasi tidak menunjukkan gejala, kemampuan uji laboratorium yang tidak terjangkau, dan proses interaksi-mobilisasi manusia masih terus berlangsung. Setiap orang yang bekerja keluar rumah dan bertemu orang lain, sudah cukup menjadi faktor resiko. Akan membawa kontaminasi dalam tubuhnya itu ke tempat yang disinggahi, hingga pulang kerumah bertemu keluarga.

Masjid menjadi tempat yang sangat rentan. Banyak orang memutar kran, meyentuh handle pintu, saklar lampu, mikrofon, hingga menghembuskan nafas di tempat sujud kemudian orang lain menghirupnya. Semakin banyak orang hadir, semakin besar faktor resiko. Semakin sering disinggahi musafir, semakin tinggi faktor resiko. Kita yang bekerja di luar rumah, juga akan membawa kontaminasi itu ke masjid. Ujungnya pada keluarga jama’ah masjid yang sudah sepuh, akan menjadi terkontaminasi melalui diri kita.

Empat belas hari, bukan batas waktu berakhirnya wabah ini. Empat belas hari adalah masa inkubasi virus dalam tubuh manusia. Kalangan muda bertubuh bugar, akan menghasilkan antibodi dalam tubuhnya ketika terinfeksi. Virus akan ditumpas dalam tubuh-tubuh bugar. Namun, bila dalam masa ini terjadi interaksi, virus biakan baru memiliki empat belas hari di tubuh baru, bertambah empat belas hari lagi di tubuh berikutnya, demikian terus menerus. Situs Kawal COVID-19 merilis simulasi perhitungan, bahwa wabah ini bisa berlangsung hingga September, dengan empat hingga enam juta jiwa korban di seluruh Indonesia. Sangat mungkin diantara angka empat hingga enam juta jiwa itu terdapat orang-orang yang kita cintai.

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci ikhtiar memutus mata rantai penularan secara individual. Rajin cuci tangan enam langkah menggunakan sabun & air mengalir, patuh adab batuk/bersin, makan makanan bergizi seimbang, istirahat cukup, menjaga jarak aman lebih dari satu meter & menggunakan masker ketika berinteraksi. Diimbangi dengan kekuatan iman; beribadah wajib & sunnah dalam kemesraan keluarga di rumah, serta bersedekah.

Mungkin bisa jadi pertimbangan yang sudah rindu sholat Jum’at.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like

Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs pada hakikatnya adalah proses pembersihan jiwa dan hati dari berbagai…

Bagaimana Engkau Menghapus Dosa-dosamu?

Bagaimana engkau menghapus dosa-dosamu? adalah Kajian dari Ustadz Reki Abu Musa. Kajian…

Sya’ban Yang Terlalaikan…

Kajian menarik tentang Bulan yang cukup Istimewa, salah satu bulan yang mana…

Keberhasilan Karantina Mandiri Tanggung Jawab Bersama

MCCC Gunungkidul; Perlu ditekankan bersama bahwa Keberhasilan Karantina Mandiri Tanggung Jawab Bersama.…