Ustadz Reki Abu Musa kali ini membawakan Kultum Ramadhan dengan Judul Tanda Ilmu yang Bermanfaat.

Ilmu yang Bermanfaat dalam Perspektif Agama Islam ini dikaji dengan menarik dalam Kultum Ramadhan ini, selamat membaca.

Tanda Ilmu yang Bermanfaat

brown wooden shelf with books
Photo by Olenka Sergienko on Pexels.com

Allah memuliakan ilmu dan ahlinya. Bahkan Allah memulai menurunkan ayat Al Qur’an pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan perintah untuk membaca;

اقْـرأْ باسْمِ ربِّ كَ الَّ ذِي خَلقَ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,” (QS Al‐’Alaq; 1).

Ilmu adalah jalan menuju jannah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

منْ سَلكَ طريقًا يـبْتغي فيهِ علْمًا َّ سهل اللَّ ه له طريقًا إلَى الجنةِ    

“Barang siapa memudahkan langkah kakinya menuju majlis ilmu, Alloh akan mudahkan langkahnya dengan ilmu tsb menuju Jannah.” (HR. Muslim 2699)

Semakin besar keinginan seseorang untuk masuk jannah, maka berbanding lurus dengan semakin besar usahanya untuk menuntut ilmu.  Sebab seseorang bisa masuk jannah jika mengerjakan amalan‐amalan jannah, dan tidak mungkin beramal jika tidak dilandasi dengan ilmu yg benar.

Namun tidak setiap ilmu menghadirkan kemanfaatan bagi pemiliknya dan bagi orang banyak. Tidak sedikit orang yang celaka karena ilmunya itu; celaka dunia dan celaka akhirat.  Beberapa indikasi ilmu yg bermanfaat adalah;

Pertama, ilmu tersebut semakin membuat kita takut pada Allah.  Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Fathir ayat 28 :

إَّ نما يَخشَى اللَّ هَ مِنْ عِبادِهِ العلمَاء

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba‐hamba‐Nya, hanyalah ulama.” 

Ibnul Qayyim menyatakan, “Tidaklah disebut alim (orang berilmu) kecuali orang yg punya rasa takut pada Allah. Semakin hilang ilmu, semakin hilang rasa takut. Jika rasa takut hilang, maka ilmu pun akan makin redup.” (Syifa’ Al‐‘Alil, 2: 949)

Kedua, ilmu itu menjadikan pemiliknya semakin semangat melakukan ketaatan dan semakin semangat menjauhi maksiat. “Siapa yang takut pada Allah, maka dialah ‘alim, seorang yang berilmu. Siapa yang bermaksiat pada Allah, dialah jahil (orang yang jauh dari ilmu).”

Ketiga, mengantarkan pada sifat qana’ah (selalu merasa cukup) dan zuhud pada dunia. Al‐Hasan Al‐Bashri pernah berkata, “Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang zuhud pada dunia dan semangat mencari akhirat. Ia paham akan urusan agamanya dan rutin melakukan ibadah pada Rabbnya.”

Keempat, tawadhu’ (rendah hati) dan mudah menerima kebenaran dari siapa pun, kemudian berusaha menerapkan kebenaran tersebut.

Kelima, tidak suka pujian dan enggan menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain , serta menjauhi ketenaran. Kalaupun ia disanjung lalu menjadi populer itu bukan karena keinginan dan pilihannya.

Keenam, Ilmu yang dipelajari tidak jadi kebanggaan dan kesombongan di hadapan lainnya. Ia sadar bahwa para salaf dahulu jauh lebih mulia dan ia pun selalu berprasangka baik pada mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

You May Also Like

Menjaga Lisan di Bulan Ramadhan

PDMGK akan rutin merilis KULTUM RAMADHAN selama Sebulan ini. Di Ramadhan 1442H yang…

Dua Waktu Yang Banyak Dilalaikan Di Bulan Ramadhan

Kultum Ramadhan Hari Ketiga 1442H, PDMGK akan rutin merilis KULTUM RAMADHAN selama Sebulan…

Puasa dan Kepedulian Sosial

Puasa dan Kepedulian Sosial; Kultum Ramadhan Hari Empat 1442H oleh Ustadz H.…

Keutamaan Sholat Tarawih

Kali ini Ustadz Solihin akan memberikan Kultum Ramadhan dengan Tema Keutamaan Sholat…