Ilustrasi mahasiswa mempelajari radiologi di Unisa Yogyakarta

Biarawati Asal Maluku Pilih Unisa Yogyakarta untuk Belajar Radiologi

27 September 2026 2 menit baca 5 dilihat

Yogyakarta (pdmgk.org) — Sebastiana Bwarleling datang ke Yogyakarta bukan sekadar untuk menambah gelar. Biarawati asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, itu memilih Program Studi D3 Radiologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta karena ilmu yang dipelajari akan dibawa pulang untuk memperkuat layanan kesehatan di Ternate.

Muhammadiyah.or.id melaporkan Sebastiana membutuhkan pendidikan tersebut untuk Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, yang dikelola kongregasinya. Biaya pendidikan ditanggung rumah sakit dan setelah menyelesaikan studi, ia diharapkan kembali ke Ternate.

Kebutuhan rumah sakit menentukan jurusan

Sebastiana menjelaskan bahwa radiologi bukan pilihan yang muncul dari daftar minat pribadi semata. Kongregasinya membutuhkan suster yang dapat mengisi unit radiologi. Unit lain di rumah sakit tersebut sudah memiliki tenaga, sementara radiologi masih membutuhkan penguatan.

Hubungan antara kampus dan rumah sakit terlihat cukup langsung: Unisa menyediakan pendidikan, kongregasi menyiapkan dukungan, dan Ternate menjadi tempat ilmu itu akan digunakan.

Ini bukan berarti hasil layanan kesehatan otomatis meningkat sejak hari pertama kuliah. Sebastiana masih harus menjalani proses pendidikan. Namun, tujuan akhirnya jelas dan terhubung dengan kebutuhan nyata.

Belajar di tengah perbedaan

Kehadiran Sebastiana juga memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan Muhammadiyah berhadapan dengan keberagaman. Ia seorang biarawati Katolik, sementara mayoritas mahasiswa Unisa beragama Islam.

Sebastiana mengatakan dirinya terbiasa berinteraksi dengan masyarakat berbeda latar belakang karena pengalaman bekerja di Ternate. Tantangan yang ia rasakan bukan terutama soal agama, melainkan jarak usia. Sebagai anggota kongregasi sejak 2015, ia sempat canggung ketika harus berbaur dengan mahasiswa baru yang sebagian besar baru lulus SMA.

Menurut ceritanya, penerimaan teman-teman membuat proses adaptasi menjadi lebih mudah. Pengalaman itu menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti pada slogan, tetapi tumbuh melalui perjumpaan dan kebiasaan belajar bersama.

Pendidikan yang kembali ke masyarakat

Unisa Yogyakarta mencatat 14.872 pendaftar dan menerima 2.878 mahasiswa baru pada tahun akademik 2026/2027. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia dan empat negara. Kampus juga menyalurkan beasiswa Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa.

Data tersebut memberi gambaran skala kampus, tetapi tidak boleh dipakai untuk menyimpulkan semua mahasiswa mengalami pengalaman yang sama. Kisah Sebastiana tetap merupakan pengalaman personal.

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah menyampaikan bahwa Masa Ta’aruf menjadi ruang untuk mengenali dan mengembangkan potensi mahasiswa. Prinsip “no one left behind” yang ia sampaikan mencakup akses pada fasilitas, informasi, beasiswa, dan kegiatan kemahasiswaan.

Bagi Sebastiana, pendidikan radiologi punya arah pengabdian yang jelas. Setelah lulus, ia diharapkan kembali ke Ternate untuk membantu mengembangkan rumah sakit kongregasinya. Dari Yogyakarta, ilmu itu akan menempuh perjalanan lain: masuk ke ruang pemeriksaan, bertemu pasien, dan bekerja dalam layanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat.

Sumber: Muhammadiyah.or.id.