Karantina Mandiri Tanggung Jawab Bersama MCCC Gunungkidul
Karantina Mandiri Tanggung Jawab Bersama MCCC Gunungkidul

MCCC Gunungkidul; Perlu ditekankan bersama bahwa Keberhasilan Karantina Mandiri Tanggung Jawab Bersama. Jumlah pemudik yang tiba di Gunungkidul hingga hari Jumat (10/4/2020) mencapai 7.662 jiwa. Angka yang disampaikan Dishub diperoleh dari pos pantauan di Terminal Dhaksinarga dan Terminal Semin, serta laporan dari Perusahaan Otobus. Di luar itu masih ada pemudik yang tidak menggunakan jasa transportasi Bus, maka wajar bila ada selisih angka dengan yang direkap oleh Dinkes dan Sida Samekta. Faktanya memang sudah tembus 8.000 jiwa pemudik tiba di Gunungkidul, walaupun diantaranya sudah kembali berangkat merantau kembali. Beberapa sudah selesai masa karantina mandiri, beberapa belum selesai tapi sudah berangkat merantau kembali.

Pemudik dari Ibukota dan daerah penyangga di sekitarnya, merupakan agen transmisi COVID-19. Ibukota sebagai episentrum penularan dengan terus mengalami peningkatan angka kasus aktif, cukup sebagai alasan untuk mewaspadai setiap orang yang memiliki riwayat perjalanan dari sana. Memang tidak semua pemudik pasti terinfeksi COVID-19, tapi pemeriksaan Laborat yang tidak terjangkau, mencukupkan kita menggunakan faktor resiko sebagai ukuran. Dengan faktor resiko yang ada, maka setiap pemudik dan orang yang memiliki riwayat perjalanan dari zona merah penularan COVID-19, wajib menjalani karantina mandiri selama 14 hari.

Pemudik didominasi usia muda produktif. Tubuh pada usia ini, sangat tangguh. COVID-19 mungkin saja sudah menginfeksi, tapi gejala tidak muncul karena tubuh yang bugar. Sementara infeksi aktif yang terjadi dalam tubuh bisa menularkan pada orang lain, sekalipun tanpa gejala. Lansia yang berada di rumah dan lingkungannya menjadi sangat rentan tertular, dan akan sulit untuk bertahan sebab imun dalam tubuh Lansia juga sudah renta.

Karantina mandiri selama masa inkubasi COVID-19 wajib dijalani. Harapannya setelah 14 hari, Pemudik yang terinfeksi sudah mengalahkan virus dalam tubuhnya dan tidak menularkan pada orang lain.

Selama 14 hari, pemudik yang baru tiba ini wajib untuk;

  1. Melapor kepada RT/RW dan Dukuh.
  2. Tinggal di rumah, dengan kamar tidur yang terpisah dari anggota keluarga lainnya.
  3. Dilarang dikunjungi dan menghadiri kerumunan juga tempat umum.
  4. Gunakan alat makan pribadi dan cuci sendiri.
  5. Gunakan pakaian pribadi dan cuci sendiri.
  6. Buat daftar tamu yang berkunjung ke rumah.
  7. Siapkan kontak penting, nomor telepon RT, RW, Dukuh, Petugas Puskesmas, Babinkamtibmas, dan Babinsa.
  8. Laporkan setiap keluhan sesuai kontak telepon. Misal ada keluhan kesehatan segera telepon petugas Puskesmas, sampaikan keluhan melalui telepon. Jangan mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan, tanpa konfirmasi melalui telepon.
  9. Selalu gunakan masker selama masa karantina.
  10. Jaga jarak dengan anggota keluarga, lebih dari satu meter.

Empat belas hari akan terasa sangat lama dan membosankan. Maka perlu diisi dengan aktivitas yang bermanfaat misalnya meningkatkan ibadah dan membaca buku pengetahuan. Beberapa orang mungkin mengalami kekhawatiran dengan beban ekonomi, sementara masih dilarang keluar rumah apalagi bekerja di luar rumah. Masalah semakin menjadi beban bila yang menjalani karantina mandiri adalah tulang punggung keluarga.

Sempat memuncak kegelisahan warga di waktu gelombang awal pemudik, hingga ada yang menutup kampung dengan barikade bambu dan sebagainya. Hal yang sebenarnya berlebihan. Saudara-saudara kita ini terpaksa mudik, karena roda ekonomi di perantauan berhenti. Ada yang merantau berjualan Bakso, laris di tempat keramaian, tapi keramaian di Ibukota sudah hilang. Demikian pula yang bekerja sebagai buruh bangunan, proyek ikut berhenti. Sedangkan di perantauan mereka tetap harus memikirkan cara bertahan dengan biaya yang mahal. Kalau masih ada cara untuk tetap bertahan tentu mereka memilih untuk bertahan di Ibukota, daripada pulang dengan faktor resiko sebagai agen penularan COVID-19 bagi keluarga dan tetangganya.

Potensi warga yang aktual untuk menjaga kampung perlu diarahkan supaya menjadi upaya menjaga yang otentik. Memblokade kampung bagi pemudik akan menimbulkan permasalahan sosial yang lebih pelik. Permasalah yang mungkin saja timbul dengan tetangga sebelah rumah, dari palang bambu yang dipasang akan menjadi bibit dendam. Menjadi tidak baik untuk kehidupan bertetangga kita yang semestinya berjalan langgeng dalam guyub rukun.

Semangat menjaga kampung perlu diaktualisasikan dengan mendukung karantina mandiri selama 14 hari. Masa-masa berat yang dijalani pemudik selama 14 hari, perlu diringankan. Hadirkan raya optimis dan nyaman. Perantauan telah gagal memberikan jaminan rasa aman dan nyaman, maka warga kampung yang akan selalu menghadirkannya. Bila pelaku karantina mandiri mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, bantu bareng-bareng, bergiliran antar tetangga atau warga kampung secara luas.

Terima Kasih Dokter dan Perawat MCCC Gunungkidul
Terima Kasih Dokter dan Perawat MCCC Gunungkidul

Pastikan selama 14 hari itu tidak ada alasan untuk keluar mencari makan. Berikan buku bacaan untuk mengisi kebosanannya. Bantu keluarganya untuk menyediakan fasilitas cuci tangan yang fungsional dan praktis. Berikan masker pada seluruh anggota keluarganya. Tugas ini tidak akan terasa berat bila warga membantu dengan guyub rukun, tapi karantina mandiri terancam gagal bila pelaku karantina diabaikan, kebutuhan pokoknya tidak tercukupi, dan merasa terancam.

Keberhasilan memutus mata rantai penularan COVID-19 dengan karantina mandiri bagi pemudik, bukan hanya tanggung jawab pelaku karantina dan keluarganya. Ini merupakan rangkaian kerja kita bersama-sama. Karantina mandiri akan berhasil bila semua warga saling membantu dan saling menjaga. Kita pastikan bersama-sama, kampung selalu menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Kampung kita menjadi tempat pembasmian COVID-19 dengan imun tubuh muda para pemudik yang bugar, dalam dukungan segenap warga.

Sumber Ilustrasi dari Freepik, salah satunya dari ini Medical vector created by freepik – www.freepik.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like

Tazkiyatun Nafs

Tazkiyatun Nafs pada hakikatnya adalah proses pembersihan jiwa dan hati dari berbagai…

Bagaimana Engkau Menghapus Dosa-dosamu?

Bagaimana engkau menghapus dosa-dosamu? adalah Kajian dari Ustadz Reki Abu Musa. Kajian…

Dua Belas Langkah Muhammadiyah

Berikut ini adalah 12 Langkah Muhamamdiyah yang disampaikan oleh Ketua MPK Pimpinan…

Sya’ban Yang Terlalaikan…

Kajian menarik tentang Bulan yang cukup Istimewa, salah satu bulan yang mana…